Showing posts with label RESENSI. Show all posts
Showing posts with label RESENSI. Show all posts
Tuesday, 17 March 2015
Saturday, 14 March 2015
Keteladanan Hidup Suci para Wanita Kudus
Resensi dimuat di Koran Jakarta edisi Sabtu 14 Februari 2015
Judul : Lima Kuntum Bunga Gereja
Penulis : A Sudiarja
Penerbit : Kanisius
Cetakan : Januari 2015
ISBN : 978-979-21-4174-0
Di tengah pergolakan dan pergulatan hidup yang semakin liar dan sesak, buku Lima Kuntum Bunga Gereja bisa jadi |"udara segar." Buku merupakan renungan atas lima tokoh perempuan suci Gereja yang memancarkan spirit inspirasi dan cahaya keteladanan umat. Mereka adalah Santa Teresia, Santa Bernadette, Santa Teresa, Santa Katerina, dan Ibu Teresa. Mereka konsisten menjadi pribadi sederhana, penuh kasih, dan lepas dari prasangka. Mereka menggambarkan penerapan etos ilahiah dalam kehidupan di dunia fana ini.
Santa Teresia menjadi lambang bukti cinta pada sesama dengan fokus hanya kepada Yesus. Narasi cinta tersebut bisa dibaca lewat karyanya berjudul Confessiones. Tulisannya itu merupakan ungkapan yang jujur dari gejolak jiwanya, seamsal buku bertajuk sama karya Santo Agustinus. Tetapi Teresia lebih cair, tidak meramu tulisan jadi pemikiran teologis (hal 8).
Friday, 13 February 2015
Kesederhanaan Yesus sebagai Alternatif Hidup Modern
Resensi dimuat di Koran Jakarta edisi Jum'at 13 Februari 2015
Judul : Teologi Jalan Tengah
Penulis : T Tri Harmaji
Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia
Tahun : Desember 2014
Tebal : xii + 312 halaman
ISBN : 978-602-178-83-49
Buku Teologi Jalan Tengah ini sejatinya menjadi jawaban atas kegagalan pola hidup manusia era modern dan postmodern. Tak heran, buku lebih menguraikan historisreflektif. Sebelumnya, dijabarkan ada dua teologi yang sampai saat ini menjadi andalan Gereja dalam menjawab realitas sosial ekonomi: Teologi Pembebasan dan Teologi Kemakmuran. Namun karena konteks yang telah berubah, kedua teologi itu semakin dianggap kurang relevan.
Seperti terlihat dari konteks kemunculannya, teologi kemakmuran lebih relevan untuk menanggapi sebuah resesi ekonomi. Sementara teologi pembebasan lebih cocok untuk mengkritisi para penguasa tiran. Nah, di era demokrasi dan kemajuan ekonomi sekarang, Gereja ditantang memetakan kembali persoalan dan kemudian menciptakan sebuah teologi baru yang relevan.
Wednesday, 28 January 2015
Thursday, 22 January 2015
Tantangan Indonesia Menjaga Multikulturalitas
Resensi dimuat di Koran Jakarta edisi 21 Januari 2015
Judul : Multikulturalisme, Kekayaan, dan Tantangan di Indonesia
Editor : A Eddy Kristiyanto & William Chang
Penerbit : Obor
Tahun : 2014
Tebal : 192 halaman
ISBN : 978-979-565-712-5
Bangsa dan negara Indonesia sejatinya dikandung dan dilahirkan dari rahim multikulturalisme. Buktinya, dalam mempersiapkan kemerdekaan, peserta sidang BPUPKI dan PPKI berasal dari kalangan yang berbeda-beda, baik latar daerah, etnis, pendidikan, agama, ideologi, dan falsafah hidup. Kendati begitu, mereka melebur menjadi Indonesia, memakai bahasa Indonesia, dan berdiskusi gayeng merumuskan falsafah bangsa Indonesia. Persemaian toleransi dan kebersamaan yang dibangun saat itu menjadi embrio dasar fondasi kuat multikulturalisme.
Buku antologi berjudul Multikulturalisme ini mengulas pemikiran tentang multikulturalisme dalam konteks situasi konkret Indonesia kini. Refleksi-refleksi teologis dan pemikiran-pemikiran segar yang dilontarkan sangat menantang cara kita menjadi Indonesia. Sebagai awalan dijabarkan bahwa multikulturalisme menunjuk pada keberadaan bersama (coexistence) sejumlah pengalaman kultural yang berbeda dalam sebuah masyarakat. Sejak Konsili Vatikan II, telah didengungkan istilah kultur, sebagai kanal dialog yang elegan. Konsili Vatikan menekankan konsep kultur sebagai unsur terpenting dalam menjembatani pemahaman Katolik tentang iman dan tradisi yang berakar dalam humanisme Kristiani.
Friday, 9 January 2015
Wednesday, 7 January 2015
Berpolitik dengan Kasih Kristiani
Resensi dimuat di Koran Jakarta edisi 7 Januari 2015
Judul : Spiritualitas Politik, Kesucian Politik dalam Perspektif Kristiani
Penulis : Paulinus Yan Olla
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2014
Tebal : 198 halaman
ISBN : 978-602-030-268-3
Orang Kristiani dalam sejarahnya terbelenggu selama berabad-abad sebelum menemukan nilai positif politik seperti diinspirasikan Alkitab. Belenggu sejarah itu datang dari kenyataan bahwa kelompok umat Kristiani sejak kelahirannya berada di bawah kekuasaan yang menindas. Di sana berkembang sikap negatif terhadap politik dan kekuasaan. Politik dijauhi karena idealisme kehidupan rohani adalah keterpisahan dari dunia. Banyak penguasa politik entah sebagai raja, ratu, maupun pangeran di zaman lalu meninggalkan panggung politik dan berusaha mencari kesucian hidup di biara-biara religius (hal 13). Padahal sejatinya, spiritualitas politik lahir serta dibentuk dalam ruang dan waktu, di setiap tempat sejak awal Gereja. Umat Kristiani selalu secara langsung maupun tidak terlibat dampak kehidupan politik. Dalam sejarah kekristenan, bentuk-bentuk relasi gereja dan politik telah diwujudkan secara berbeda. Politik dilihat sebagai jalan yang dapat membawa pada kesucian (hal 51). Kesadaran ihwal politik sebagai jalan kesucian baru berkembang sekitar tahun 1900-an. Ada kesadaran bahwa politik bukan medan yang harus dihindari. Kesadaran tentang pentingnya aktivitas politik bagi umat Kristiani semakin tumbuh setelah Konsili Vatikan II yang melihat pentingnya teologi kesadaran kenyataan-kenyataan duniawi (hal 68). |
Monday, 22 December 2014
Bersahaja dengan Lingkungan
Resensi dimuat di Koran Jakarta edisi 22 Desember 2014
Penulis : Sony Keraf
Penerbit : Kanisius
Tahun : 2014
Tebal : 194 halaman
ISBN : 978-979-21-3957-0
Harga : Rp. 50.000,-
Negeri ini setiap tahunnya dirundung bencana dan musibah. Miris dan sedih, itulah ungkapan keharusan bangsa negeri ini. Kerugian moril dan materiil tak terhitung banyaknya. Seolah bencana tampak tak segan berhenti meluluhlantakkan bumi dan bangsa Indonesia. Berita duka terakhir datang dari Banjarnegara yang terkena bencana longsor hingga menyebabkan ratusan orang meninggal dan ribuan lainnya mengungsi. Namun apakah bencana tersebut datang begitu saja? Ataukah ada pemicu di balik marahnya alam? Kehadiran buku berjudul Filsafat Lingkungan Hidup ini akan mengurai secara filosofis bagaimana pemantik utama bencana bisa terjadi.
Secara hipotesis, penulis menjabarkan faktor terbesar kemunculan bencana adalah kesalahan paradigma antroposentrisme. Paham ini memandang manusia sebagai pusat dari segala sesuatu, sebaliknya alam semesta dianggap sebagai tidak memunyai nilai intrinsik pada dirinya sendiri sehingga anggapan yang muncul selama ini adalah menempatkan alam sebagai penopang instrumental ekonomis bagi kepentingan manusia (hal 8). Buku karya Sony Keraf ini lahir dari sebuah pergumulan dan pergulatan pemikiran yang panjang yang telah dimulai sejak penulisan buku Etika Lingkungan (2002) sampai dengan buku Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global (2010).
Saturday, 9 August 2014
Catatan Keimanan dari Rihlah Spiritual
Resensi dimuat di Perada Koran Jakarta 8 Agustus 2014
Judul : 7 Pengalaman Iman dari 3 NegaraPenulis : RF Bhanu Viktorahadi Pr
Penerbit : Kanisius
Tahun : 2014
ISBN : 978-979-21-4050-7
Buku 7 Pengalaman Iman dari 3 Negara ini bukan sembarang catatan perjalanan seperti lainnya yang terserak di rak. Keistimewaan karya ini terletak pada setiap inspirasi dan petikan keimanan dari momentum rihlah yang dilakoni penulis. Bhanu Viktorahadi, seorang imam diosesan Keuskupan Bandung, mengawali perjalanannya dari Roma.
Setting buku memang diangkat dari pengalaman pribadi penulis tatkala menjalani tugas studi Kitab Suci di Roma dalam kurun 2001-2005. Ikhtisar buku bisa mengantarkan pembaca pada relung keimanan yang hakiki. Keimanan berbasis kesalehan sosial yang tinggi. Jadi, bukan keimanan semu karena terperangkap godaan kehidupan individualisme dan materialisme.
Gaya penulisan reportase dan diary yang dipakai Bhanu memudahkan pembaca berimajinasi mendeskripsikan kisah perjalanannya yang unik. Buku ini secara format terbagi ke dalam tujuh bagian. Pada tiap bagiannya, Bhanu piawai mengemas suasana dalam cerita-ceritanya, mulai dari catatan ringan, diikuti dengan fenomena, dan problematika sosial sebagai acuan pelajaran. Kemudian, disudahi dengan petikan hikmahnya.
Misalnya, dalam “Mendahului Matahari Menuju Kota Abadi”, mulamula Bhanu berkisah tentang pertama kali menginjakkan kaki di Kota Roma. Dia langsung menjelajahi kota yang akan menjadi persinggahan studinya. Dia berkisah tentang pemandangan alam sekitar, keindahan arsitektur, kebudayaan ilmiah, dan penghormatan pada waktu yang dijunjung tinggi masyarakat Roma.
Uniknya, pada kesempatan lain, Bhanu melihat fenomena pelacuran yang marak, di kawasan kumuh, dekat dengan Basilica San Pietro. Dari analisis reportasenya, Bhanu akhirnya dapat informasi bahwa para pramuria tersebut sengaja berdemo, menentang keputusan Vatikan yang menolak keberadaan lokalisasi dengan alasan apa pun karena efek bahaya dan dosa yang ditimbulkannya sangat besar. Maka, Paus pada bulan Mei 2002, membuka pengampunan dosa sekitar 500 pramuria, agar mereka beralih profesi, dan kembali menjalani keberimanan sesuai nilai-nilai moralitas dan religius (hal 15-16).
Bhanu juga merekam gemuruh Kota Roma tatakala berlangsungnya Piala Dunia 2002.
Suasana kota diwarnai bendera tim Italia dan poster-poster pemain pujaan. Gegap gempita sepak bola menjadi magnet besar masyarakat Italia. Tak ayal, ketika kesebelasan Italia bermain, mendadak kota menjadi senyap. Jalanjalan sepi. Kantor dan sekolah diliburkan. Mereka mendadak lupa segalanya, Gereja. Ketika tim Italia dikalahkan Korea Selatan di babak perempat final, keadaan kota mendadak menjadi buas.
Orang-orang Korea dan negara lainnya yang berada di Roma, termasuk Bhanu, menerima getahnya, sepanjang bulan di-bully (hal 30-31).
Selanjutnya, dalam judul “Kisah di Negeri Daun Mapel”, Bhanu mengisahkan bagian kedua perjalanannya tatkala menapaki tanah Vancouver di Kanada. Ada petikan hikmah yang diperoleh, yakni soal gaya hidup individualis yang menggejala. Ketika Bhanu ditugasi memimpin misa requiem, dia terkejut melihat umat hanya dua orang. Mereka adalah suami yang terbujur kaku dan istri yang menungguinya. Padahal, pasangan suami-istri tersebut memiliki anak-anak dan sanak keluarga, namun mereka seakan tak peduli untuk sekadar hormat terahir kalinya pada almarhum. Hal ini tak disangka Bhanu karena predikat kota yang menduduki peringkat teratas untuk kategori yang paling nyaman ditinggali. Maka, dalam setiap episode penggembalaan, Bhanu menyuarakan gaya hidup individualis-materialis berdampak negatif pada keimanan sosial (hal 33-34).
Ada satu kisah yang paling menarik bagi Bhanu dalam judul “Masuk Sarang Mafia”.
Bhanu, sebelum menapaki Sisilia, memang sudah banyak membaca novel Amerika. Sewaktu Bhanu berkesempatan mengunjungi pusat markas mafia, dia tercekat menemui wajah-wajah religius. Mereka menyambutnya dengan hangat dan ramah (hal 112-114). Bhanu pun memetik hikmahnya, keimanan hadir dari lubuk hati terdalam. Dia tak bisa disangkal dan dikebiri dengan kejahatan lahiriah yang merusak sendi-sendi religiositas dan norma sosial. (Muhammad Bagus Irawan)
Sunday, 15 June 2014
Tuesday, 10 June 2014
Thursday, 5 June 2014
Keteladanan Sejati sang Pangon
Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta edisi 31 Mei 2014
Judul : Sang Pangon, Justinus Kardinal Darmojuwono
Penulis : Rusmanto, Pr
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Tahun : 2014
Tebal : 196 halaman
ISBN : 978-979-21-3661-6
Di Indonesia, tokoh ini tak begitu dikenal. Namun, siapa sangka bakti luhur dan budi pekertinya disegani dunia. Dialah Justinus Kardinal Darmojuwono. Dia adalah kardinal pertama Indonesia. Tak seperti laiknya tokoh protagonis yang populis, hanya ada satu buku memoir yang mengulas kehidupannya, karya J Hadiwikarta, 27 tahun silam.
Kini, lewat buku karya Rusmanto ini, umat Kristiani Indonesia diajak kembali menengok sekaligus mengambil hikmah perjuangan dan lika-liku kehidupan Sang Pangon. Kehadiran buku ini menjadi penting untuk meruwat narasi historis Keuskupan Katolik di Indonesia (halaman 2).
Imin, atau Djamin nama panggilannya, dilahirkan pada 2 November 1914 di kampung Klewonan Godean, Yogyakarta. Anak sulung pasangan Surodikiro dan Ngatinah ini sejak anak-anak sudah punya visi laku prihatin. Kehidupan keluarganya sederhana, membentuk Imin dan adik-adiknya terbiasa kerja keras.
Imin, atau Djamin nama panggilannya, dilahirkan pada 2 November 1914 di kampung Klewonan Godean, Yogyakarta. Anak sulung pasangan Surodikiro dan Ngatinah ini sejak anak-anak sudah punya visi laku prihatin. Kehidupan keluarganya sederhana, membentuk Imin dan adik-adiknya terbiasa kerja keras.
Belajar dari Pesan-pesan Asketisme Yesus
Judul Buku : Kezuhudan Isa Al-Masahi dalam Literatur Sufi Suni Klasik
Penulis : Hasyim Muhammad
Penerbit : Rasail
Terbit : Februari 2014
Tebal : xx+364 halaman
ISBN : 978-979-1332-71-2
Sebagian bangsa ini terperosok dalam krisis akhlak dan spiritualitas. Krisis melanda pelajar, pengangguran, pedagang, pengusaha, hingga pejabat. Lihat saja, media saban hari menyiarkan kasus narkoba, tawuran, seks bebas, perkosaan, prostitusi, pembunuhan, perampokan, jual-beli hukum, biaya politik tinggi, dan korupsi.
Hiruk-pikuk kejahatan itu menyisakan keprihatinan lantaran terkikisnya keimanan pada Tuhan dan solidaritas antarsesama. Negeri ini kehilangan kultur dan spirit hidup yang adil, makmur, harmonis, dinamis, dan gemah ripah loh jinawi. Sebaliknya, bangsa masuk dalam kehidupan pragmatis berbasis uang. Hidup sekadar mencari uang sebanyak-banyaknya sehingga menempatkan yang kaya sebagai penguasa, si miskin budak tertindas.
Sepatutnya, rakyat menata ulang cara pandang terhadap kehidupan dunia yang hanya tempat singgah sementara sehingga harus dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan. Pandangan hidup seamsal ini sering disebut asketisisme atau zuhud. Ini paham kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan berkorban.
Subscribe to:
Posts (Atom)


















