Labels

Saturday, 4 August 2012

Kisah Cinta yang Ditolak Adat

 Resensi ini dimuat di Harian Bhirawa edisi Jum'at edisi 3 Agustus 2012
http://www.harianbhirawa.co.id/opini/50960-kisah-cinta-yang-ditolak-adat

Judul         : Mencari Cinta yang Hilang
Penulis      : Abdulkarim Khiaratullah
Penerbit    : Diva Press, Yogyakarta
Tahun        : 1, Juni 2012
Tebal         : 392 halaman
Peresensi   : Muhammad Bagus Irawan
Pegiat Idea Studies IAIN Walisongo Semarang

Kisah percintaan selalu menabur harapan indah. Keindahan itupun tak selalu berbuah manis, kadang juga berupa derita dan nestapa. Cinta barangkali berwujud kasih sayang, yang memang akan mewartakan sendi kehidupan seluruh manusia. Setiap orang niscaya beredar menuju kemana hati akan meletupkan cahaya cintanya. Hingga, mereka akan terus mencari cinta yang suci dibawah rambu syari'at dan dianggap sejati dari citraan hegemoni, walaupun itu berujung pada keelegian yang pahit. Cinta kadang juga memantik fatsun kelabu yang mengkhawatirkan. Gelora hidup berurat dari soal cinta, karena cinta selalu ada. Pada hakikatnya, cinta itu urusan hati, dan cinta suci itu kehendak ilahi.

Nasib Tragik Etnik Rohingya

Tulisan ini dimuat di Opini Wawasan edisi Sabtu 4 Agustus 2012
Bulan puasa ini mendatangkan cobaan sangat berat bagi etnik muslim Rohingya di Myanmar. Sejak bulan Juni lalu, mereka harus menghadapi aksi keras militer Myanmar. Meskipun aksi penyerangan ini merupakan bentuk penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Bagaimanapun pembantaian ini sangat memilukan dan memalukan komunitas PBB dan ASEAN. Namun sampai sekarang belum terdengar upaya negara-negara lain untuk membantu menyelesaikan konflik timpang dan penuh elegi ini.
Hingga saat ini aksi pembantaian etnik Rohingnya telah menewaskan 650 jiwa (dan akan selalu bertambah bila tak ada upaya penghentian), menelantarkan 90.000 jiwa yang menempati tempat persembunyian, dan memaksa 80.000 jiwa mengungsi ke negara-negara yang mau menampung, termasuk Indonesia. Ada sekitar 437 orang yang telah mengungsi ke Indonesia, sebagian besar ditampung di Aceh dan Medan.

Thursday, 2 August 2012

Generasi Politik Santun


Opini dimuat di Harian Waspada edisi Kamis 2 Agustus 2012.

Buya Syafi’i Maarif dalam diskusi nasional bertajuk “Membangun Politik Indonesia” mengatakan, Indonesia terancam gagal membangun generasi politik yang solid, karena keengganan mereka mendengar kata politik yang sudah dinisbahkan sebagai laku kotor dan keji. Begitu masifnya media massa memberitakan budaya, sistem, pelaku politik yang identik bobrok, korupsi, tak memedulikan suara rakyat miskin, dan akhirnya terjerat di penjara, dan bebas dengan sogokan. Siklus inilah yang sehari-hari kita tonton, menjadikan politik kini sudah digeneralisasikan sebagai praktik menyamun uang Negara sebesar-besarnya dan membunuh hak rakyat sekeji-kejinya.

Latar belakang inilah yang mengartikulasikan mindset generasi menjadi antipati terhadap politik. Akibatnya, kebanyakan generasi sudah tak sudi bergabung dengan partai politik, sama halnya mereka tak acuh dengan organisasi ekstra mahasiswa yang berperan sebagai sarana pengkaderan insan berpolitik, semisal HMI, PMII, KAMMI, NASDEM, dan lainnya. Generasi lebih mementingkan keberhasilan studi dan karir ekonominya di masa depan.