Labels

Saturday, 2 June 2012

Menakar Islam Harmonis


Dimuat di Harian Bhirawa edisi 24 Mei 2012
http://www.harianbhirawa.co.id/opini/47401-menakar-islam-harmonis


Judul Buku  : Islam Dinamis , Islam Harmonis
Penulis       : Machasin
Penerbit     : Lkis, Yogyakarta
Tahun        : 1, Desember 2011 
Tebal         : 342 halaman
Harga        : Rp65.000,-
Peresensi   : Muhammad Bagus Irawan
Peneliti Idea Studies IAIN Walisongo

Belakangan ini media gencar memberitakan wacana pembubaran organisasi massa yang dinilai anarkis dan seringkali melancarkan tindak kekerasan. Kemendagri pun angkat tangan akan mengkaji dan menerbitkan keputusan itu sebagai langkah jitu mengurai tindak kekerasan yang terorganisir. Ya, di negeri Pancasila ini kemelut konflik selalu hinggap menjadi potret buram, dan seringkali disebabkan oleh kekerasan yang sering dimobilisasi secara semena-mena oleh kelompok-kelompok sosial tertentu. Akibatnya, setiap konflik sosial muncul, kekerasan pun sering tak terhindarkan. Barangkali dinamika konflik sosial di Indonesia sangat rentan kekerasan.



Sungguh nahas memang, mengingat sejatinya NKRI dibangun atas dasar HAM dan perdamaian dunia, dengan menjunjung tinggi petuah Bhinneka Tunggal Ika sebagai Negara plural dan inklusif. Namun sayangnya, konflik menjadi ruas merah yang kapan saja tersulut dan membakar. Lebih ironisnya, acapkali lakon kriminal bak preman itu diperagakan organisasi atas nama agama, tak terkecuali agama Islam. Ambil contoh, bagaimana aksi FPI (Front Pembela Islam) ketika melancarkan operasi atas nama penegakan syari'ah, mereka tak segan membombardir warung remang, rumah bordil, dan diskotik yang dinilai sebagai kandang perzinaan dan maksiat. Begitupun dengan tindakan anarkis Ormas Islam lain yang anti dan brutal terhadap keberadaan jama'ah Ahmadiyah yang dinilai sesat. 



Dan tak hanya itu, sejarah mencatat banyak sekali laku anarkisme atas nama Islam di tanah air. Bila ditelusuri para pelaku bersandar pada dalil "amar ma'ruf nahi munkar", menegakkan kebenaran dan mencegah kebatilan. Pertanyaannya, apakah benar dalil Islam itu sejalan dengan aksi anarkis dan barbaris, ataukah Islam membenarkan laku terorisme pemeluknya? Buku berjudul "Islam Dinamis, Islam Harmonis" karya Machasin ini hadir untuk menelanjangi hakikat Islam sebenarnya. Ya, Machasin dengan pemikirannya menegaskan bahwa Islam itu rahmatan lil 'alamin (menebarkan kasih sayang bagi seluruh alam), yang mewujud pada tradisi Islam yang teraktualisasi dalam bingkai budaya dan tradisi masyarakat setempat. Pemikiran substantif seperti ini yang mendasari pondasi Islam dinamis dan harmonis. Pandangan ini jelas menempatkan ajaran Islam berlawanan dengan tindak anarkis dan teroris. 



Di sini, pisau analisis Machasin hadir lewat kajian empiris, bahwa penulis sudah sekian lama bersanding, berdialog, dan mengkaji ihwal para pelaku anarkis yang mengaku Islam. Dari penelusuran latar belakang dan alasan yang didapat, disimpulkan bila para pelaku anarkis ini terpengaruh gerakan Islam Wahabi (gerakan pemurnian Islam dan fundamentalis), tentunya model keberislaman seperti ini sangat tak cocok diterapkan di negeri Pancasila yang plural seperti Indonesia. Bahwa keberislaman masyarakat Indonesia sejalan dengan kearifan lokal. Secara historis, Islam hadir di Indonesia secara damai dan bertransformasi. Secara bertahap mengikis tradisi leluhur yang terlarang, melanggengkan tradisi yang tak bertentangan, dan menuju tradisi kearifan lokal muslim Indonesia yang unik dan berbeda dengan Arab dan Negara lainnya.



Tak bisa dimungkiri, bila paska kemerdekaan, keberislaman masyarakat Indonesia terbagi kedalam tiga wajah, yakni: Islam Fundamentalis yang identik dengan tindak anarkisme, Islam Moderat semisal NU dan Muhammadiyah, dan Islam Liberal yang menggagas pandangan visioner keislaman. Perbedaan lanskap inlah yang seringkali menimbulkan konflik. Di sini Machasin menakar bahwa Islam itu mengajarkan prinsip welas asih, dan kasih sayang tanpa batas. Sebagai contoh, Nabi Muhammad saja memaafkan seorang kafir Quraisy yang selama hidup selalu menganiaya dan hampir membunuhnya. Ini menunjukkan bahwa ajaran Islam itu senantiasa menebar kedamaian, jauh dari tindak anarkisme dan brutalisme. Bila ada tindak brutal yang mengaku Islam, itu menjadi kesalahan besar pemeluk yang tak mengerti dalil atau hanya mengikuti penafsiran yang salah kaprah. 



Di sini, perlu disandarkan kembali bahwa Islam itu dinamis dan dapat berdialog dengan tradisi dan budaya dimana ia tumbuh dan berkembang serta mampu merespon tantangan lokal maupun global. Islam juga harmonis dan menghargai keberadaan kemanusiaan orang lain dengan penuh bijaksana. Maka pemaknaan dan penafsiran terhadap teks-teks keagamaan harus selalu berlangsung sesuai zaman dan kondisi ia digunakan (sholih fi kulli zaman wa makan). Yang harus diperbaiki adalah kesadaran akan penafsiran teks Al-Quran dan Hadist yang seringkali disalahgunakan.


Ikhtiar buku ini menakar kembali keberislaman yang harmonis. Bahwa umat haruslah memaknai ajaran keberislaman dalam rambu perdamaian dan kearifan lokal, lebih dari itu juga kearifan global. Buku ini menjadi pembacaan kritis Macahsin menghadapi berbagai tindak kekerasan Islam yang tak pernah surut. Buku setebal 342 halaman ini disajikan dengan bahasa yang sederhana namun lugas dan tajam dalam menelanjangi berbagai contoh kasus di salamnya. Buku ini lain dibaca untuk menumbuhkembangkan keberislaman yang dinamis dan harmonis sesuai asas kebangsaan "bhinneka tunggal ika". Selamat membaca. ***

Memandang Hatta



Dimuat di Jurnal Nasional edisi 11 Maret 2012

Muhammad Bagus Irawan*


 CITA-CITANYA tak lain adalah mencerdaskan kehidupan bangsa; bukan semata cerdas otaknya, namun lebih ke arah cerdas menjalankan kehidupan. Artinya memiliki hidup yang berharkat dan martabat tinggi. Perwujudan itu terpedomani lewat kutipan dari Rene de Clerq, “Hanya satu yang dapat disebut tanah airku, ia terkembang dengan usaha dan usaha itu ialah usahaku". Inilah bagian kecil dari bejibun semangat perjuangan Hatta yang kokoh demi eksistensi nilai gotong-royong menuju kebaikan bersama atas dasar kekeluargaan, yang semestinya dicontoh dan ditradisikan generasi muda NKRI saat ini.



Belakangan di tengah identitas dan moralitas sebagian bangsa yang rapuh; ditandai aksi maraknya korupsi oleh para elite, aksi radikalisme, dan terorisme, tampaknya bangsa-negara kita telah tercerai-berai dengan menyeruaknya paham materialisme danindividualisme akibat arus globalisasi. Tak pelak, bangsa ini memang harus kembali membaca dan belajar pada sejarah perjuangan para tokoh bangsanya. Seperti perkataan Bung Karno dengan ungkapan terkenalnya “Jas Merah", Jangan sekali-kali melupakan sejarah.


Sebab belajar dari sejarah adalah kata yang tepat menyikapi setiap lika-liku persoalan yang acap membelenggu dan terus berulang. Hadirnya buku berjudul Untuk Negeriku, Sebuah Otobiografi Mohammad Hatta yang diterbitkan kembali ini adalah langkah yang patut mendapat apresiasi dengan cerdas dalam meruwat, menggugah sekaligus merefleksikan kembali teladan yang dibawa Hatta, lewat rasa dan falsafah pemikiran dan perjuangannya ikut membangun bangsa Indonesia yang "lurus".


Buku ini ditulis sendiri oleh pena Hatta secara bertahap mulai dari tahun 1968 sampai setahun terakhir menjelang wafatnya. Di dalamnya praktis digambarkan lingkungan sekitar, pengalaman hidup, keluarga, perasaan, pemikiran, semangat dan aktivitasnya hingga menggapai gerbang kemerdekaan. Tentunya, ada sebuah catatan yang belum terjawab: mengapa Hatta hanya menulis kisahnya sampai menggapai kemerdekaan saja? Kenapa tidak seluruh kehidupannya? Bagaimana tindak lakunya setelah memutuskan hengkang dari kekuasaan politik pada 1968. Dengan tambahan foto-foto, memperkuat kualitas penceritaan Hatta dalam tutur tulis yang mungkin asing karena berlogat bahasa Indonesia tempo dulu.



Perubahan hanya menyentuh kata per kata yang dirasa berbeda pengertian sekarang menjadi kurang baik, semisal kata “preman" diganti kata “partikelir", yang berarti “swasta" (hlm. xviii). Secara tekstur penulisan otobiografi, Hatta tampak terkesan bercerita apa adanya tentang kejadian yang telah dilaluinya dan masih berkesan dalam ingatannya atau tertulis dalam catatan. Tidak ada refleksi lanjutan dan ulasan pertanggungjawaban intelektual atas peristiwa dan kejadian khusus, seperti dalam memoar Soekarno dan Soeharto yang ditulis tatkala masih berkuasa.



Hatta sang proklamator adalah sedikit dari pemikir visioner yang dimiliki negeri ini. Dalam sejarahnya, ia dikenal sebagai seorang yang cerdas, penyendiri, sopan, jujur, santun, gigih, dan jauh dari gaya flamboyan yang ahli berpidato semisal Bung Karno, teman perjuangan sekaligus lawan kritis dalam pemerintahan.Dalam sebuah riwayat Bung Hatta kerap mendapat joke dari teman-temannya; semisal sindiran Bung Karno sebagai seorang yang tak romantis, juga dari teman akrabnya Sutan Sjahrir lewat surat yang dikirim kepada istrinya (Renuangan Indonesia, 1947) bahwa Hatta dinilai terlalu serius dan sama sekali tak tertarik dengan sastra (hlm. xxii).


Riwayat Pendidikan


Bung Hatta lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902 dari Ayah H Mohammad Djamil dan Ibu Saleha dengan nama Mohammad Athar, dan kemudian biasa dipanggil Atta oleh sanak familinya, dan hingga sekarang melalui buku-buku sejarah, bangsa kita sepeninggalnya mengenal nama lengkapnya sebagai Mohammad Hatta.


Dalam riwayat pendidikannya, ia termasuk anak cerdas yang beruntung mendapatkan keluarga yang peduli pentingnya pendidikan. Tak pelak, sedari dini di Bukittinggi, Hatta mendapat dua jurusan pendidikan sekaligus duniawi dan ukhrawi; pagi hari menimba ilmu di sekolah formal Belanda, dan sorenya mengaji dan belajar Al Quran di surau. Bisa dibayangkan bila masa kecil Hatta sampai remaja dibingkai keluarga dalam waktu pedagogis yang ketat.


Kemudian Padang dan Betawi menjadi tempat naik tangga Hatta melanjutkan bangku sekolahnya. Masa ini adalah tempat Hatta mengasah pengalaman organisasi. Ia dipercaya menjadi bendahara pada Swallow, organisasi sepak bola yang ia dirikan bersama teman-temannya, juga pada Jong Sumatranen Bond (JSB) yang berdiri pada 9 Desember 1917 sebagai efek berdirinya Jong Java (1915), sebagai wadah pemersatu pelajar-pelajar Sumatra. Di Betawi Hatta melanjutkan sekolah ekonomi dan sempat dipercaya pamannya menjalankan perniagaan. Dari sini, Hatta mulai bergesekan dengan buku-buku sosialisme dan ekonomi Barat. Banyak buku yang habis dibacanya.



Hatta muda adalah seorang yang berani menyeruakkan aksiologi pendidikannya ke muka umum. Ia gigih mempertahankan pemikirannya. Hatta kemudian melanjutkan pendidikannya di Rotterdamse Handelshogeschool pada 1921. Di negeri Belanda ini, selain berkuliah, ia aktif menjadi anggota pergerakan kepemudaan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (1925). Ia juga rajin mengirim tulisan kritis ihwal romantisme bangsa yang merdeka ke beberapa koran di Tanah Air. Praktis selama sebelas tahun keberadaannya di Eropa dihabiskan dengan pembelajaran sekaligus pemupukan kekuatan dan pemikiran politiknya.



Impian Hatta



Impian Hatta adalah ingin melihat Indonesia menjadi negara-bangsa yang makmur dan bermartabat. Ada dua hal yang paling berkesan sepanjang hidupnya; pertama saat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bersama Bung Karno; kedua, saat menerima penyerahan kedaulatan Republik Indonesia Serikat dari Ratu Juliana pada 27 Desember 1949. Kedua momen itulah yang membawa negara-bangsa Indonesia memperoleh martabat dan kedaulatan penuh, keluar dari jajahan selama empat abad lamanya.



Selepas dari pendidikannya di Belanda Hatta langsung memegang peranan penting di PNI, ia juga menyumbang pemikirannya agar PNI menjadi organisasi pendidikan kader, bukan gerakan massa. Dalam nalarnya, Hatta selalu mengutamakan wujud tercapainya kekeluargaan dalam upaya perekonomian bersama.


Dia adalah sosok penggagas dan penggerak sistem koperasi yang mencerminkan semangat gotong-
royong. Ia pun dikenang sebagai “Bapak Koperasi". Hatta juga disebut penguasa Jepang sebagai “Ghandi dari Jawa" karena kesederhanaan dan keuletan khazanah berdagangnya. Hatta dalam pergerakan politis kritisnya juga pernah mengalami masa sulit pembuangan Belanda ke Boven Digul, dan kemudian dipindahkan ke Banda Neira.


*Peneliti di Ideas Studies di IAIN Walisongo, Semarang.



BOOKS
Judul : Untuk Negeriku, Sebuah Otobiografi
Penulis : Mohammad Hatta
Penerbit : Buku Kompas, Jakarta
Tahun : 1, 2011
Tebal : 800 halaman
Harga : Rp125.000
ISBN : 978-979-709-540-6

Pesona Bali dalam Cerpen



Dimuat di Harian Bhirawa edisi 03 Mei 2012
http://www.harianbhirawa.co.id/opini/46378-pesona-bali-dalam-cerpen

Judul Buku  : Perempuan yang Mengawini Keris
Penulis       : Wayan Sunarta
Penerbit     : Jalasutra, Yogyakarta
Tahun         : 1, 2011
Tebal          : xiv + 152 halaman
Harga         : Rp30.000,-
ISBN          : 9786208252683
Peresensi   : Muhammad Bagus Irawan
Pegiat Idea Studies IAIN Walisongo

Untaian cerpen buaian Wayan Sunarta yang bertajuk "Perempuan yang Mengawini Keris" kali ini menawarkan pesona eksotisme Bali. Wayan yang telah lama melintang dalam dunia seni sastra nusantara mengelaborasi kekuatan lokalitas Bali yang penuh warna. Tak ayal, kombinasi tema sarat makna dengan tradisi busaya, menyuguhkan gagasan dan cerita yang menggelitik dan menarik. Wajar bila Damhuri Muhammad dalam kata pengantar, memekakkan bila ikhtiar Wayan tak lain berusaha membendakan kesadaran moral yang tersaji dalam lautan kearifan lokal pada alam kultural Bali. Bali yang terkenal dengan keindahan pantai dan tradisi Hinduisme Nusantara yang kental sejatinya menohokkan ekspektasi norma dan moral yang niscaya terelakkan.

Nuansa itulah yang dielaborasi Wayan di dalam 17 cerpen yang dikodifikasikan dalam buku setebal 152 halaman ini. Ya, Wayan nampaknya mengelabui pembaca dengan arogansi teks yang diolahnya menuju kesadaran moral keseharian yang menyentuh. Secara sinopsis, dalam buku ini sebagian besar berkisah tentang perempuan dalam beragam persoalannya. Misalnya, perempuan yang terpaksa menikah dengan keris karena calon suaminya kabur pada saat hari pernikahan (Perempuan yang Mengawini Keris), perempuan yang terpaksa berbohong pada suaminya yang sangat ingin punya anak (Rastiti), perempuan yang terpaksa kembali jadi pelacur demi mendapatkan uang untuk biaya pengobatan penyakit yang dideritanya (Aku Membeli Nyawaku), perempuan penari yang terjebak cinta segi tiga (Puing Cinta Sang Penari), perempuan gila yang diperkosa berandal desa (Perempuan yang Mampir dari Warung ke Warung), dan seterusnya. Selain itu, dalam antologi juga disajikan kisah teroris yang batal meledakkan bom di tempat sasaran karena harus memenuhi janjinya dengan seorang pelacur idolanya (Di Jimbaran Aku Mengenangmu), dan cerpen yang berkisah tentang tragedi pembantaian orang-orang yang dituduh PKI (Buronan dan Kuburan Ayah).

Menikahi Keris
Dalam cerpen pembukanya yang berjudul "Perempuan yang Menikahi Keris", Wayan memantik pembaca mengarungi karakter  nestapa "aku" dari seorang wanita yang tersedak dalam kesendirian (wanita tunggal yang tak meiliki saudara lelaki). Walaupun sang wanita itu berparas ayu, berpendidikan tinggi, aktif menjadi wanita karir, dan memiliki keluarga kaya terpandang, namun dalam kepercayaan, wanita yang tak memiliki saudara adalah kesialan. Secara adat Bali, pernikahan yang dilakoni seorang wanita tak bersaudara itu disebut nyentana, bagi pihak keluarga lelaki dianggap aib dan memalukan.

Alhasil, wanita itu sampai usia yang matang tak jua mendapat seorang lelaki pun yang mau menikahinya. Padahal, ia dengan materi yang dimilikinya mampu menggaet seluruh lelaki tipe apapun, tapi sebatas menjadi pacar, sedang lelaki tadi tak sudi diajak menikah. Sampai suatu masa, wanita itu bertemu dengan seorang pelukis yang kemudian bersedia menikahinya lahir-batin dengan segala resiko yang akan ditanggung. Sejenak rona bahagia pun terpancar berbinar dari wajah sang wanita dan keluarga. Sampai hari akad nikah berlangsung, keluarga wanita sudah menggelar pesta besar dan mengundang banyak tamu. Nahasnya, saat prosesi sudah ditabuh, tiba-tiba sang lelaki menghilang, sontak saja wanita dan keluarganya terkejut dan sedih. Tak ayal untuk menghindari malu yang lebih dari para tamu, prosesi nikah tetap dilangsungkan, dan sebagai ganti lelaki, wanita itu pun menikah dengan sebilah keris hitam nan dingin (hlm. 4-9). 

Meskipun, Wayan tidak membeberkan ujung keterikatan antara calon suami yang kabur dengan keris, namun kenapa pilihan jatuh kepada keris, bukan benda lainnya? Barangkali keris menyimpan khazanah tersendiri yang menampik seluruh prasangka. Mungkin saja, benda pusaka yang menjadi pegangan leluhur nusantara itu memiliki daya kultus yang patut dibanggakan, lebih dari itu keris juga menohok simbol kekuatan yang tak padam.

TerorisSelanjutnya, dalam judul "Di Jimbaran Aku Mengenangmu", disajikan cerita yang berporos pada aksi terorisme yang tersesat. Di awal cerita, Wayan mengumandangkan keelokan pantai Jimbaran yang mampu menggaet ribuan wisatawan datang kesana tiap bulannya. Namun, pada suatu ketika cerita lain datang dari karakter seorang pemuda yang kecewa menjalani hidup karena ditinggal kekasihnya yang menikah dengan bule. Sampai akhirnya, ia berniat balas dendam, mencoba membakar sakit hatinya dengan mengebom kafe milik mantan kekasihnya itu yang berada di bibir pantai Jimbaran. 

Ya, pemuda itu telah bergabung dengan kelompok teroris yang mengatasnamakan "jihad agama" yang salah kaprah. Hingga tibalah hari pengeboman, pemuda itu sudah lengkap membawa ransel dan jaket penuh serangkaian bom, namun dia mampir sejenak menyisiri bibir pantai untuk terakhir kalinya. Dia terkejut, tatkala terdengar suara aneh dari pantai Jimbaran yang terus mengejeknya, bahwa apa yang dilakoninya adalah konyol karena tak diikuti alasan dan keyakinan kuat. Akhirnya niat busuk pemuda itu batal (menghianati teman-teman pengebom bunuh diri yang menggelar aksi malam itu), lantas bom pun dipendamnya dalam bibir pasir, dan pemuda lari terbirit menemui pelacur yang sudah dibooking sebelumnya. Ikhtiar penulisan cerita ini barangkali berlandas pada peristiwa tragis  "Bom Bali", yang menimpa sejumlah kafe di Bali, anehnya, ada sebuah bom yang meledak di bibir pantai tanpa tujuan dan makna yang jelas.

Secara garis besar, rangkaian cerpen Wayan ini menampilkan ikonisitas tradisi bali. Di sini, pembaca akan akrab dengan kata; nyentana, bli, nyoman, pengabean, balian, klian, karmaphala. Selain, dalam antologi cerpen ini juga menampilkan daya eksotisme dari tarian, patung, dan keindahan alam Bali. Pesona Bali yang tercecer dalam keseharian rupanya menjadi sasaran Wayan untuk melantunkan syair ceritanya. Lewat gagasan imajiner Wayan, tak diragukan lagi, penulis mampu meramu cerpen dengan bahasa sederhana nan menyastra. Secara tipografi penulisan,  cerpen Wayan separohnya dilahirkan di Karangasem Bali dalam rentang waktu enam tahun (dari tahun 2005 sampai 2011). Bagi saya, cerpen Wayan masuk dalam kategori pusaka cerpen etnografis dengan lokalitas budaya dan imbuhan pesan moral yang padu menjadi satu-kesatuan yang apik. Barangkali, Wayan berusaha merangkai khazanah Bali kedalam himpunan kisah singkat yang penuh warna dan pesona. Selamat membaca. ***