Labels

Saturday, 17 December 2011

Menguak Monopoli Televisi Jakarta

Dimuat di Koran Jakarta edisi Senin 5 Desember 2011
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/77666

Judul : Televisi Jakarta di Atas Indonesia: Kisah Gagalnya Sistem Televisi Berjaringan di Indonesia
Penulis : Ade Armando
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Tahun : 1, 2011
Tebal : 296 halaman
Harga : Rp49.000,-

Media televisi sejatinya memiliki peran vital dalam membentuk suara bangsa. Lebih jauh lagi, indikator tinggirendah intelegensia bangsa terlihat dan dibentuk oleh tayangan televisi nasional. Televisi pun memiliki andil dalam memonitor berjalannya status demokrasi.

Berjalannya demokrasi diukur dengan kebutuhan dan konstruksi rakyat secara multipolar dan berjaringan pada setiap pos daerah. Sayang, dunia pertelevisian kita terselubungi dominasi komersialisasi Jakarta. Fakta ini didengungkan Ade Armando melalui bukunya yang berjudul Televisi Jakarta di Atas Indonesia: Kisah Gagalnya Sistem Televisi Berjaringan di Indonesia.

Penulis yang mantan anggota KPI, beranjak dari analisisnya (2004-2007), menyatakan kondisi gagal itu berlangsung selama hampir kurang lebih 20 tahun dan menjadi ketimpangan pelik karena dominasi pada sistem pertelevisian oleh stasiun-stasiun televisi swasta besar yang berpusat di Jakarta. Dengan mengutip data dari Media Scene, bisa dilihat pemasukan iklan televisi komersial pada 2007 mencapai 23 triliun rupiah dan sama sekali tak menyentuh daerah.

Sangat jelas monopoli TV Jakarta berkuasa. Secara kasat mata dapat ditebak, dari kondisi itu, televisi swasta Jakarta menjadi berkembang pesat menyudutkan televisi daerah yang terengahengah. Dari sanalah kritik Ade tertuju. Ade menampik upaya DPR dengan rumusan Undang-undang Penyiaran No 32 tahun 2002, ihwal TVRI sebagai televisi nasional yang merangkul seluruh pelosok negeri ini dengan penempatan jaringan-jaringan daerahnya.

Namun faktanya, peraturan itu tak terlaksana disebabkan kuatnya monopoli televisi swasta di Jakarta. Sederhananya, seluruh rakyat Indonesia, khususnya di luar Jakarta, dipaksa menonton suguhan siaran dari Jakarta, yang sejatinya kurang memberi manfaat bagi mereka dalam pelbagai bidang; baik itu politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya.

Apa pun itu, masyarakat butuh informasi perihal isu daerah setempat (hlm 31). Bukan kepalang, sistem yang ada ini salah. Sistem yang harusnya diterapkan di negara kita adalah sistem televisi berjaringan. Barang kali sistem televisi jaringan daerah menjadi solusi pada sistem pertelevisian kita. Kurang lebih itulah yang tersirat dalam gagasan buku Ade ini.

Selanjutnya, Ade juga menggali kritikan terhadap eksistensi TVRI. Ia menilai, TVRI sebagai saluran utama televisi Indonesia harusnya menyajikan tayangan yang apik sebagai alat pengukuhan keberagaman dan kemajemukan bangsa Indonesia.

Sayangnya, tidak ada keterikatan solutif yang diangkat Ade, sehingga kesimpulan yang disajikan menjadikan buku ini bersifat reaktif dan penuh argumentasi, inilah ciri khas yang akan dijumpai pembaca dalam buku ini.


Peresensi adalah Muhammad Bagus Irawan, Aktivis Idea Studies, IAIN Walisongo Semarang.

Mengenang Hiburan Lokal Tempo Dulu

Dilansir dari Koran Jakarta edisi Senin, 5 September 2011

http://m.koran-jakarta.com/index.php?id=70453&mode_beritadetail=1
http://www.issuu.com/koran_jakarta/docs/edisi_1145_-_5_september_2011/1

Judul Buku : Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal
Penulis : Fandy Hutari
Penerbit : Insist Press
Tahun : 1, 2011
Tebal : xiv + 164 halaman
Harga : Rp40.000

Buku ini dibuka dengan catatan kecil penulis mengenang ihwal betapa kaya budaya dan kesenian yang sudah ditorehkan bangsa leluhur negeri ini. Barangkali, ingatan sederhana inilah yang mendorong penulis mengumpulkan rampai sejarah hiburan dan kesenian negeri ini. Kekayaan khazanah seni bangsa ini memang menjadi harta tak ternilai.

Dimulai dari kekayaan tradisi lokal, Fandy, sang penulis, berfokus pada elaborasi kesenian kawasan daerah kelahirannya, sekitar Jabodetabek. Sisi penulisan buku tercipta sebagai kumpulan antologi esai yang dijabarkan ke dalam 5 bagian. Dalam setiap bagian dielaborasikan judul esai tentang jenis hiburan dan budaya tertentu.

Pada bagian pertama, "Panggung Sandiwara Kita", diurai sejarah kelompok sandiwara Miss Tjitjih yang semula bernama Opera Valencia, namun diganti menisbahkan pada figur primadona yang bernama Nyi Tjitjih, seorang gadis jelita asal Sumedang, yang kemudian dipersunting pemilik Opera bernama Aboe Bakar Bafaqih, seorang keturunan Arab. 

Pada awal berdirinya tahun 1928, Opera Miss Tjitjih memulai merangkai cita rasanya dengan pengabadian sandiwara Sunda, namun setelah meninggalnya sang figur Nyi Tjitjih pada usia 31 tahun, opera itu mengalami dekadensi, walaupun tetap eksis hingga sekarang, berkah dari perjuangan keras Nyi Tjitjih hingga akhir hayat.

Kemudian, juga diungkap perjalanan perkumpulan sandiwara kala itu yang tak lepas dari persaingan antarkelompok. Dalam judul "Sepenggal Kisah Miss Riboet Orion dan Dardanella" dikisahkan betapa ketat persaingan pertunjukan sandiwara tempo dulu. Pada babak ini, Fandy mencatat kedua perkumpulan sandiwara itu menjadi benih sandiwara modern Indonesia, yaitu mereka telah merombak tradisi sandiwara klasik, memetakan episode cerita yang lebih ringkas, memainkan cerita asli bukan hikayat tempo dulu (hal 8).

Ada hal menarik, titik sulut persaingan kedua sandiwara ini selain pasar, adalah adanya kesamaan nama pemain lakon utama dan primadona antara Miss Riboet Orion dan Dardanella, hingga pada akhirnya kelompok Dardanella mengalah dengan mengubah nama pemainnya tadi menjadi Miss Riboet II.

Dalam "Budaya Lokal", Fandy bercerita tentang warna-warni tradisi dan budaya yang kian luntur dewasa ini. Semisal, Tradisi Rengkong, Seni

Masyarakat Agraris. Kesenian masyarakat Sunda ini dilakonkan dengan wujud tarian kuda renggong diselingi musik angklung dan perkusi dogdog. Adapun, istilah rengkong sendiri berasal dari nama alat untuk memikul padi dari sawah ke lumbung (hal 41). Juga, sintren sebagai kesenian magis yang menyejarah. Dalam instrumentasinya, sintren terdiri dari juru kawih atau sinden, diiringi tabuhan gendang dan sejenisnya. 

Adapun, unsur mistis yang disajikan adalah tatkala para sintren dengan suara merdunya memanggil bidadari, kemudian bidadari pun merasuki tubuh pesintren (kesurupan). Dalam sejarahnya, sintren menjadi alat perlawanan pada digdaya kolonialisme, juga sebagai lambang kebebasan. 

Selanjutnya, gotong domba, tradisi seni Kiara Beres. Kesenian ini ditandai dengan iring-iringan dua pasang arca domba berwarna hitam dan putih yang digotong empat orang (hal 62).

Buku ini berbicara tentang keaneragaman seni dan budaya lokal kita. Dewasa ini, dengan pesatnya perkembangan zaman, hingga semakin luasnya cakupan dan dampak globalisasi, sudah menggerus keberadaan tradisi itu.

Kritik penulis adalah penggugahan kesadaran dan kepedulian masyarakat kita dalam menghidupkan kembali khazanah tradisi apik itu.

Muhammad Bagus Irawan, pegiat Idea Studies, IAIN Walisongo.

Mimpi dan Cerita Masa Kanak

Dilansir dari Koran Jakarta edisi 4 Oktober 2011

http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/72775

Buku berjudul Tagore dan Masa Kanak ini seutuhnya merekam aktivitas dan mimpi ketergirangan dan keterbebasan masa kanak-kanak. Tagore sang seniman peraih sastra nobel 1913 itu, menuliskan kaidah juang dan esensi seorang anak menjadi pribadi yang baik dan kuat. Lewat sentuhan khas budaya India, ia mengisahkan bagaimana anak-anak meraih cita dengan perjuangan keras. Sebaliknya, keterkungkungan dan penindasannya malah menjadikan masa kanak musnah, hingga harapan berkembang cerah tak tergapai, malah menyisakan tata sosiologis yang terbalik, di mana sang anak ketika dewasa ingin menggapai masa kanaknya kembali.

Kata disiplin yang acap diberikan orang tua kita haruslah mendapat koreksi ulang, dengan pemaknaan yang tepat sesuai mimpi anak. Hal ini bisa dikatakan mustahil, namun dalam uraian cerpen Tagore, inilah sejatinya labirin ikhtiar dan pesan dari masa kanak. Dalam pandangannya, orang tua dituntut membalik dengan masa kanaknya dahulu, sesuai konteks zaman anak sekarang tentunya. Nilai ungkap itu coba diurai Tagore dengan cerita-cerita lain, dan ketidakwajarannya.

Dalam pembacaan saya, ada kolaborasi apik lewat hasil terjemah dan alih bahasa Ayu Utami, di mana terjadi persinggungan dua budaya antara India dan Indonesia. Ini terlihat dari koreksi Ayu menampikkan budaya negerinya yang terlihat jauh dengan pemaknaan budaya asli Tagore. Pada titik ini, pembaca akan kesulitan memaknai cara pikir Tagore dengan konteks budayanya kala itu.

Perlu ada penceritaan ulang untuk memahamkan kaidah seni Tagore bagi pembaca, dan inilah yang harus diungkap Ayu, bisa lewat catatan akhir. Secara kategorisasi, buku antologi cerpen Tagore ini terbagi ke dalam tiga garis besar tema; bagian pertama, Cerita Lepas, di dalamnya terdapat empat judul cerpen. Dalam judul "Orang Suci di Atas Pohon", diceritakan bagaimana terjadi percakapan unik dan konyol antara Panchu dan Udho tentang klenik orang sakti di atas pohon yang mampu mengabulkan segala permohonan (hlm 4-8).

Di sini ada intrik apik, saat kemiskinan menimpa seseorang dan iman pun tak terjaga. Maka kelelahan dan keputusasaan pun datang. Jalan menuju kekayaan yang diartikan kebahagiaan pun dicari. Klenik menjadi salah satu jalannya dan ujungnya akan selalu saja banyak penyesalan yang hadir.

Bagian kedua, Kakek dan Cucu, susunan cerpennya didominasi cerita serial "Si Orang 01-04" (hlm 38-70) yang berkisah tentang kegemilangan cerita kakek tentang kebakuan sebuah cerita itu sendiri, dan lucunya cerita ini dikisahkan kepada dan melibatkan cucunya dalam kehidupan nyata. Sebuah skenario ulung yang coba diterjang Tagore lewat gubahan "ekspedisi cerminnya" terkesan mengandai khayalan multikompleks, sebuah cerita tentang cerita dan diolah dari tokoh cerita pula. Selanjutnya, dalam bagian kedua juga diceritakan judul; "Sang Ilmuwan", "Istana Raja", "Kabar Besar", "Peri", dan ditutup "Lebih-Dari-Benar".

Membuka bagian terakhir buku ini adalah gagasan besar Masa Kanak. Tipologi penulisannya dielaborasi ke dalam bab 1 sampai 14. Di sinilah uraian dan pesan Tagore diumbar. Ketika Tagore berkisah tentang diri kekanakannya yang penuh dengan kekonyolan dan harapan yang melambung tinggi, hingga ia pun bercerita selaksa ingin menaklukkan awan. Ada hal unik, nama depan Tagore yakni "Rabi" bermakna matahari yang tidak memisahkan antara timur dan barat. Inilah gagasan konsep humanisme yang dicacar Tagore. Adapun dalam pesan kesannya, masa kanak yang bebas lepas adalah awal menuju pribadi yang sehat. Bagi saya, terlepas dari kebekuan pemaknaan budayanya, buku ini menarik, dan selamat membaca.

Judul : Tagore dan Masa Kanak
Penulis : Rabindranath Tagore
Penerjemah : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Tahun : 1, Mei 2011
Tebal : 192 halaman
Harga : Rp45.000

Peresensi adalah Muhammad Bagus Irawan, pegiat sanggar Idea Studies IAIN Walisongo Semarang.