Saturday, 5 March 2011
Resensi Film [Tuah Kesabaran]
Sunday, 5 December 2010
Warna-warni Sistem Kapitalisme
Judul : Good Capitalism, Bad Capitalism; Kapitalisme Baik,
Kapitalisme Buruk dan Ekonomi Pertumbuhan dan Kemakmuran
Penulis : William J. Baumol, Robert E.Litan, dan Carl J. Schramm
Penerjemah : Rahmi Yossinilayanti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 1, Oktober 2010
Tebal : xxiii + 600 halaman
Harga : Rp145.000,-
arah kapitalisme; baik dan buruk. Namun, secara garis besar di
dalamnya mencoba mengulas dan memtransformasikan warna-warni
kapitalisme dalam era ekonomi global. Dibahas ihwal “rasa”
kritisisasi kapitalisme ternyata identik dengan ilmu ekonomi sebagai
“motor” kemajuan dunia modern. Seperti ditelisik Adam Smith lewat buku
The wealth of Nations, bahwa neraca perusahaan sebagai cermin
perekonomian AS, melonjak pesat sejalan dengan generatorisasi sistem
kapitalisme kewirausahaan—berjalan sinergis dan seimbang dalam doing
bussines.
Dijelaskan, pada mulanya, ide kapitalisme bukanlah sebagai entitas
implikasi organisasi ekonomi. Namun, seiring majunya zaman, asumsi
implisit itu memuai, dan implikasinya pun tidak hanya sebatas sifat
monolitik belaka, justru berkembang luas menjelma ideologi kuat
perekonomian. Ditargetkan, bisa menjadi “pemicu aktif” menghindari
krisis ekonomi global.
Adapun, sebarannya dibagi kedalam empat warna yakni; pertama,
kapitalisme arahan—negara (State—Guide Capitalism), pemerintah menjadi
“pemenang” yang memusatkan industri-industri ekonominya. Kedua,
kapitalisme oligarki (Oligarchic Capitalism), di mana sebagaian besar
kekuasaan industri dibawahi individu, per-orang-an, dan keluarga
(kelompok). Ketiga, kapitalisme perusahaan besar (Big Firm
Capitalism), aktivitas-aktivitas ekonomi besar dijalankan
perusahaan-perusahaan besar. Dan keempat, kapitalisme kewirausahaan
(Entrepreneurial Capitalism), berjalannya usaha-usaha kecil yang
inovatif memainkan peran vital dalam perekonomian suatu negara.
Tersimpul, menjadi primadona penulis adalah warna yang terakhir
(halaman 112).
Selanjutnya, akselerasi kapitalisme pun semakin memuncak, ditandai
ambruknya Tembok Berlin pada tahun 1989. Ditambahkan, demi arah
kemajuan, kapitalisme harus diimbangi dengan takaran produktivitas,
juga tingginya nalar kreatif dan inovatif. Hingga, mencapai dua kaidah
wajib ekonomi yaitu; penambahan input (modal dan tenaga kerja) dan
inovasi (perubahan teknologi dan teknis ilmu). Ide ini cukup relevan
dengan terapannya yang sukses, menuai pertumbuhan positif di
negara-negara; Amerika Serikat usai 1990-an, Irlandia, Israel,
Inggris, India, dan China yang kini menguasai ekonomi dunia.
Resep itu, tercermin dalam model entrepreneurship yang efisien.
Diupayakan, ada variabel besar dari pemegang modal, menjadi prioritas
yang bisa menularkan terobosan-terobosan “imajinatif”. Hingga, tolakan
distorsi pun menjadi kuat. Dalam catatan Bank Dunia 2006, dari
Trade-off dan kecenderungan ekonomi dunia, mutlak dikuasai dominasi
negara-negara dengan sistem kapitalisme kewirausahaan itu, didukung
pertumbuhan aset makro yang kuat.
Bagi saya, beranjak dari esensi buku yang kaya, setidaknya bisa
menjadi “obat” problematika negeri, bisa menjadi acuan dan
diaplikasikan kedalam perekonomian negeri ini yang terus dirudung
keterpurukan. Sudah saatnya kita merombak nalar mewujud sebagai
“entrepreneur”, sebagai penggelora kapitalisme kewirausahaan—tidak
hanya sebatas pegawai. Buku ini patut dibaca bagi siapa saja yang
ingin mendalami ilmu kapitalisme dan warna-warni di dalamnya. Selamat
membaca!
Peresensi adalah Muhammad Bagus Irawan, peneliti muda PWC, aktif studi
di IAIN Walisongo Semarang.
Tuesday, 23 November 2010
Mengenang Sajak Si Burung Merak
Judul : Stanza dan Blues
Penulis : W.S. Rendra
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 1, Mei 2010
Tebal : vii + 125 Halaman
Harga : Rp 35.000,-
Willibrordus Surendra Bawana Rendra, disingkat W.S. Rendra, namanya
amatlah dikenal dalam jagat sastra. Dengan julukan “Burung Merak”, dia
melantangkan sajak-sajak murni, ironi hati. Di dalamnya, mengkritisi
setiap ketidakadilan, kebrobokan moral, memerhati tatanan entitas
sosial, dari digdaya sang patron kuasa. Sungguh, apa yang sudah
ditulisnya itu, menjadi kekayaan yang tak ternilai bagi bangsa dan
negara Indonesia.
Buku antologi puisi berjudul Stanza dan Blues ini, hadir menghimpun
rajutan indah sajak-sajak terbaik Rendra. Darinya, pembaca dibawa
merekam jejak kreativitas Rendra, lewat sajak yang dikenal luas.
Pembaca akan merasakan daya kreatif di balik puisi-puisi Rendra.
Kreativitas tersebut bertumpu pada kegeniusan Rendra mengadaptasi dan
mentransformasikan kaidah-kaidah natural dan artistik stanza dan blues
ke dalam puisi-puisinya.
Buku ini patut dibaca sebagai arah mengagumi sumbangsih sajak Rendra
yang indah kaya makna. Ikhtiar memunculkan antologi puisi ini memang
lebih pada merekonstruksi ingatan kita akan nalar kreatif Rendra.
Mengukuhkan Rendra sebagai salah satu punggawa sastra Indonesia.
Selanjutnya, tercatat, sepeninggal Rendra pada 6 Agustus 2009 di Depok
Jawa Barat, telah didedikasikan dua buku; Rendra: Ia Tak Pernah Pergi
(Penerbit Buku Kompas, 2009); kedua, Rendra Berpulang (Burung Merak
Press, 2009). Dan, Rendra yang masif sebagai pelopor berdirinya
Bengkel Teater telah mencipta karya-karya terkenalnya yakni; Ballada
Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak), Blues untuk Bonnie, Empat
Kumpulan Sajak, Sajak-sajak Sepatu Tua, Mencari Bapak , dan masih
banyak lagi.
Puisi Rendra begitu khas. Tak ayal, melalui puisi-puisi itu pula
publik terbawa mengenal tradisi estetika balada ala Rendra. Ciri khas
yang begitu memikat secara penuh. Betapa tidak, memang secara personal
penyairnya sendiri berhasil membawakannya secara perfect tatkala
berada di atas panggung ataupun layar. Itulah, yang membuat karakter
multisafet dan poin of view dari sajak Rendra amat kuat terasa.
Buktinya, dalam ”Nyanyian Duniawi”, Rendra dengan kuat menyiratkan
daya juang dan gairah hidup yang menisbikan rasa cinta kasih (halaman
42). Tema itu, seakan berurat nadi dengan ketidakadilan sosial yang
tertangkap. Dan, apa yang menjadi renungannya itu menjelma aksi dan
peristiwa yang urgen. Hingga dituangkan kedalam lembah romantisme
kepenyairan.
Menyinggung kaidah harmoni syairnya. Terwujud sebuah capaian unik,
mise en scene, bukan kredo seni. Melainkan, kredo kehidupan yang
berdasar pada unggahan filsafat seni, guna mengabdi pada kebebasan,
kejujuran, dan hakikat kehidupan. Dirinya pun sering diapresiasi
memahami estetika secara perseptual. selamat membaca!
Muhammad Bagus Irawan, penikmat sastra pada pesanggrahan Kalamende,
mahasiswa Fakultas Ushuludin IAIN Walisongo, Semarang.
CP: 085865414241